Nikki Sixx : Fotografi sebagai proses penyembuhan

 

Apabila ditelisik lebih dalam, hubungan fotografi dan rockstar bukan sesuatu yang baru. Kita bisa lihat Andy Summers, gitaris The Police, telah aktif sebagai fotografer sejak tahun 1979 dan bukan hanya menghasilkan berbagai pameran tetapi menerbitkan beberapa buku fotografi. Kristopher Roe dari The Atalaris dan Nick Zinner dari Yeah Yeah Yeahs juga aktif berpameran. Para rockstar lokal juga tidak kalah, Giring ‘Nidji’ dan Ariel ‘Peterpen’ pun mengeluti fotografi sebagai hobi. Cerita berbeda datang dari Elang Ebi, vokalis band Polyester Embassy. Ia mendialogkan fotografi dan musik sehingga saling menginspirasi. Tengok side project-nya yang bertajuk “Semipermanent”, dalam projek ini Elang membuat foto-foto kontemplatif dengan medium Polaroid yang merangsang inspirasi bagi musik Polyester Embassy yang juga kontemplatif.

Fotografi dan musik adalah elemen ekspresi yang berbeda. Musik menghasilkan bebunyian sedangkan fotografi menghasilkan gambar. Ditangan rockstar apakah ini menjadi bentuk kesatuan yang saling melengkapi seperti dalam projeknya Elang Ebi, atau memang hanya sebagai ekpresi jeda dari rutinitas bermusik mereka?

 

Nikki Sixx dan Fotografi

Kisah intim fotografi dan musik bisa kita tengok dari seorang Nikki Sixx,   basis dari band pionir glam rock ’80-an, Motley Crue. Dia mengembalikan hasrat lamanya, yakni fotografi, ke dalam hidupnya. “He’s accumulated about 40,000 images on a hard drive”, tulis Rolling Stone yang mewawancarai kegilaan Nikki Sixx akan fotografi. Selain menguploadnya di situs pribadi, Sixx juga mempublikasikan karyanya di media sosial.

Melihat kaya-karyanya Sixx seakan melihat ‘kegelapan’. Dia sangat senang  mengumbar nuansa gelap seakan itulah bentuk eksistensinya. Seperti dalam foto yang berjudul “Mimi Osaka 2011” dia menulis catatan kecil – seperti deskripsi atau caption – bagi saya tidak begitu jelas. “Had too pay to get some picture’s. I had no problem. I had a camera and some cash.She didnt speak english.The interpreter told her to stop. We didn’t say a word. Street corner, Osaka Japan”.

Bagi saya ini hal yang ironis. Dalam proses reportase tidak di benarkan membayar objek atau memberikan hadiah apapun untuk mengiming-imingi objek untuk rela di foto. Dalam proses reportase atau sering di sebut di Indonesia sebagai “Hunting foto” (lupakan istilah hunting foto, karena kalimat itu bagi saya saat ini berkonotasi ekploitatif) kedekatan dengan objek adalah yang terpenting, melakukan riset dan memahami problem yang di rasakan objek menjadi penting. Oleh karenanya foto reportase bukanlah sekedar gimik foto “human interest”.

Kembali ke Sixx, baru-baru ini ia meluncurkan buku yang berjudul This is Gonna Hurt: Photography and Life Through the Distorted Lens of Nikki Sixx. Buku ini berisi karya fotografinya yang merefleksikan kehidupan masa lalunya dari usaha  menemukan cinta sampai kisah-kisah pencarian kebahagiaan di masa kininya. Seperti yang di kutip di amazon.com mengenai bukunya “This Is Gonna Hurt offers the compelling insights of an artist and a man struggling to survive, connect, and find a happy ending—a search that fuels Sixx’s being”

Melihat foto-foto dalam bukunya yang beberapa diunggah di www.rollingstone.com, yang paling ‘mencolok mata saya’ adalah foto tengkorak yang berjudul “Life”. Bagi saya tengkorak mengkonotasikan kekerasan. Dalam mitos-mitos masyarakat  tengkorak merepresentasikan kematian. Namun foto itu ditempeli dengan pesan kehidupan oleh Sixx. Rasanya, foto ini berelasi dengan proses hidupnya. Ketergantunganya terhadap obat-obat terlarang memabawa dia pada sisi terendah dari kesadaran, bangkit dan terjerumus kembali adalah hal yang lumrah dialami Sixx. Dalam konteks ini saya melihat tengkorak sebagai simbol dari jati dirinya yang terjerumus dan bangkit menjadi a new Sixx’s being, lewat bagaimana ia memaknai simbol kematian menjadi simbol kehidupan. Bagaimanapun ia terjerumus ke dunia obat-obatan terlarang juga pergaulan dunia rockstar, namun di dunia rock jugalah ia hidup. Tengkorak sudah menjadi ikon bagi musik cadas, glam rock, metal dan lainnya. Dan di sana pulalah kehidupannya ia temukan. Life.

Budaya visual membawa Sixx pada strategi baru dalam meracik jati dirinya sebagai rockstar. Ia seakan tidak lagi ingin hanya diingat sebagai seorang yang brutal – kita tahu bagaimana brutalnya dia di Mötley Crüe yang  mengalahkan pamor Tommy lee sekali pun. Lewat fotografi dia bisa menikmati obsesi masa lalunyanya, tanpa mengubur identitas rockstarnya, bahkan saling melengkapi. Lebih-lebih, ia kerap menjadi dosen tamu di Annenberg Space for Photography in Los Angeles.

Visualitas kini menjadi sentral budaya kita. Kita kini diajak untuk memproduksi dan mengkonsumsi karya visual, kini seakan semuanya harus di visualkan, tidak terkecuali jati diri. Strategi pencitraan diri lewat karya visual, terutama foto, menjadi amat populer bahkan yang paling utama karena new media menawarkan kemerdekaan untuk kita bermain jati diri di sana. Seperti juga yang dilakukan Sixx, Selain dia memiliki personal website dia juga memiliki dua akun sosial media. Materi-materi fotonya tidak jauh berbeda bahkan cenderung repetitif. Namun begitulah budaya visual, membom segala lini kehidupan kita saat ini. Budaya visual bahkan kini telah menggusur budaya tulisan yang sebelumnya merajai.

Maka, aktivitas kekaryaan Sixx juga ekses dari budaya visual yang sudah menjadi bagian dari budaya populer itu sendiri. Sixx dan banyak dari kita bisa jadi adalah konsumen dari budaya visual yang merajai keseharian kita. Dalam konteks dirinya yang merupakan rockstar apakah bisa dibilang bahwa peliputan mengenai aktivitas Sixx dalam fotografi merupakan liputan infotainment? Saya melihat Sixx dalam fotografi mirip dengan ibu-ibu kelas borjuis yang belajar melukis karena melukis sedang ngetren.

Ke-khusnudhon-an saya diatas bisa jadi akan luruh tatkala kita melihat fotografi bagi Sixx merupakan alat terapi. Kurang lebih, proses kekaryaan Sixx ini adalah bentuk pelarian positif dari ketergantunganya dengan obat-obat terlarang.  Fotografi sebagai medium terapi telah terbukti efektif bagi kalangan yang memiliki masalah tekanan hidup tertentu. Di kalangan fotografer profesional ada Antoine D’Agata dan Nan Goldin yang juga mampu keluar dari jerat narkoba melalui aktivitas fotografi. Di titik ini, fotografi berfungsi sebagai bukan semata-mata alat, namun eksis menjadi bagian penting dari proses hidup manusia. Semoga fotogafi yang sedang digeluti Sixx terus berkembang menjadi “sesuatu” kalau kata Sahrini.

Sudah Terbit di Pikiran Rakyat, Rubrik Khazanah Minggu-16-Oktober-2011

http://epaper.pikiran-rakyat.com/index.php/component/flippingbook/book/1015-minggu-16-oktober-2011/38-oktober-2011.html