Polusi Visual dan Kehancuran Kota

Ketika hunting foto untuk proyek “Pause; Urban Decay”, saya memotret Kota Bandung ketika kota sedang kosong. Namun, hasil foto saya memperlihatkan jejak-jejak manusia yang mengarahkan kota pada kehancurannya. Kehancuran itu ditandai dengan kesemena-menaan warga kota menampilkan produk visual di sembarang tempat. Poster kertas menempel secara permanen di dinding toko, di tiang listrik, atau di dinding jembatan layang. Baliho menumpuk di sudut perempatan. Megatron menyala di tengah jalan. Spanduk bertumpuk di pinggir jalan.

Dari pengalaman ini saya menyadari akan fungsi ruang publik sebagai medan pertarungan visual. Iklan komersil maupun politik berebut tempat untuk mempersuasi publik pengguna jalan raya. Saya menemui dosen saya, Yasraf Amir Piliang di kampus Institut Teknologi Bandung untuk mendiskusikan masalah ini.

“Alih-alih terpampang dengan rapi dan enak dilihat, iklan-iklan itu justru berlomba-lomba menjadi megalomaniak,” terang Yasraf. Megalomania adalah hasrat untuk memperlihatkan citra diri dengan menampilkan sesuatu yang besar. Semakin besar citra dan bentuk maka semakin bonafit juga seseorang atau suatu produk komersil.

Produk visual bukan hanya semakin besar, namun juga semakin banyak. Produk visual berjejalan, berulang-ulang dan rebutan perhatian. Dalam suatu perjalanan di kota Bandung, rasanya saya tidak diberikan ruang untuk mengistirahatkan mata. Yang saya sadari adalah visualitas di jalan raya tidak memberikan ruang bagi saya untuk memaknai suatu karya visual karena setelah menatap satu produk visual, saya langsung disergap produk visual yang lain. Akhirnya, pengalaman visual di jalan raya tidak memberikan makna apa-apa, selain menghasilkan kritik bagi keberadaan mereka.

Inikah polusi visual?

Menurut Yasraf, polusi visual merupakan metafora dari polusi ekologis. Umumnya kita mengenal istilah polusi dalam konteks lingkungan hidup, seperti bagaimana sampah rumah tangga yang di buang ke sungai akan membunuh ekosistem binatang dan tumbuhan yang ada di sungai. Dalam hal ini polusi visual adalah sampah yang di hasilkan dari produk visual seperti sampah billboard, brosur, baliho, poster dan produk visual baru seprti urban screen dan sebagainya. Namun sebagai metafora polusi visual diartikan sebagi sampah estetik yang mempengaruhi pengalaman visual kita secara emosional, yang secara langsung menggangu mata kita menikmati alam semesta ini. Polusi visual adalah sama halnya “sampah mata”.

Polusi visual ini bisa jadi merupakan hasil dari rekayasa citra dalam kebudayaan sehari-hari. Saya ingat-ingat lagi kuliah Bambang Sugiharto, Dosen Filsafat Universitas Parahyangan yang juga mengajar di Program Magister Seni Rupa ITB, mengenai kebudayaan dan kehidupan sehari-hari. Polusi visual dimungkinkan karena kebudayaan dibangun oleh prinsip fantasmagoria. Modernitas ditandai dikepungnya keseharian kita oleh pesona benda, citra dan berita yang mengagumkan namun sesungguhnya ilusoris. Permainan tampilan permukaan belaka. Begitu kira-kira fantasmagoria.

Megalomania dan fantasmagoria ini berkoalisi dengan kelalaian pemerintah dalam menata ruang kota. Berjejalnya produk visual di jalan raya juga diakibatkan oleh lemahnya kebijakan publik yang berpihak pada estetika ruang dan kenyamanan warga di ruang publik. Saya merasa, polusi visual bisa meningkatkan tingkat depresi warga.

Yasraf yang lama tinggal di London mencontohkan bangaimana tata ruang ideal diciptakan di sana. London menata ruangnya agar menjadi identitas bagi Inggris. “Kita bisa lihat bentuk desain pada marka jalan, bentuk taksi dan sebagainya merujuk pada identitas negara tersebut. Maka dari itu bagaimana membentuk tata ruang yang ideal adalah dengan menciptakan tata ruang yang harmonis antara pembangunan dan ekosistem. Saat itu pula arus informasi tidak terganggu, karena iklan politik, komersil dan estetika ruang dibagun sesuai peruntukannya,” tegas Yasraf.

Kamar Gelap

Demokrasi seyogyanya lahir dari kekuatan rakyat dan rakyat idealnya bisa menentukan kebijakan publik. Namun kini di jalanan yang hadir bukanlah publik, melainkan elit politik dan elit ekonomi yang mengatasnamakan publik. Yasraf memiliki istilah yang menarik untuk menjelaskan kondisi tersebut, yakni “kamar gelap”. Artinya persengkokolan pejabat publik dengan pengusaha untuk menguasai ruang publik, dan ini tidak diketahui oleh rakyat. maka kita bisa lihat bahwa demokrasi tidak bekerja sebagaimana fitrahnya dan penuh manipulasi.

Saya menemui Ridwan Kamil yang menjadi pembicara diskusi pameran foto “Art Deco Kiwari” di Galeri Rumah Sarasvati, Senin (18/3). Menurutnya kesalahan tata ruang Bandung adalah tidak adanya zonasi atau pengelompokan prioritas pembangunan. Dago tidak bisa dibuat seperti Cihampelas. Maka zonasi diperlukan untuk mengukur bagaimana pembangunan lebih terencana untuk menciptakan identitas kota.

“Keniscayaan dari sebuah peradaban adalah bagaimana manusia mewariskan peradaban yang baik, dan bukan hanya sekedar beromantisme dengan masa lalu. Tantangan hari ini bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga mewariskan peradaban baru yang menjunjung tinggi keharmonisan manusia dan alam,” ujar arsitek yang akrab disapa Emil ini.

Yang menjadi masalah akhirnya adalah partisipasi publik itu sendiri di ruang publik. George Simmel (1858-1918) sudah mengingatkan bahwa kota adalah ruang yang dikelola dengan over-stimulasi terhadap syaraf, membuka potensi pada trauma terhadap kerumunan sekaligus menimbulkan sikap ketidakpedulian. Saya merasakannya. Cukup lama saya apatis terhadap kondisi kota yang semrawut dan penuh dengan berbagai polusi termasuk visual. Saya masih bertanya-tanya, apakah apatisme ini buah dari trauma?

Menurut Kunto Adi Wibowo, dosen Fikom Unpad, kita mengidap pengetahuan bawaan dari budaya prebendal-tradisional. Menurutnya, secara tradisional bangsa Indonesia tidak memiliki kesadaran ruang publik seperti pengetahuan barat-modern. Modernisme membagi ruang secara teritorial. Ruang publik dimiliki oleh publik dan publik memiliki hak dan kewajiban di sana. Sedangkan suku bangsa di nusantara tidak berpikir secara teritorial, melainkan konsep cacah, sehingga menganggap ruang publik itu tidak riil. Itulah mengapa kita bisa cuek terhadap ruang publik karena kita tidak merasa memilikinya. Mungkin juga karena itu pemerintah tidak serius menata ruang publik, karena ruang publik dianggap tidak ada. Yang ada akhirnya praktik kamar gelap.

Bagaimanapun, kita telah hidup dalam penetrasi budaya modern yang dalam konteks budaya visual tengah memuncak. Jika kita percaya ruang publik itu ada, masa sih kita mau membiarkan polusi visual terus ‘cetar membahana’?

*Artikel Ini sudah terbit di Koran Sindo Jabar 17 juli 2013.

Enjoy 😀

Fotografi Panggung dan Euforia Membuat Aliran Fotografi

*Merespon tulisan “Tiga puluh Tahun membidik Pentas, Khazanah Pikiran Rakyat”

Perkembangan fotografi di Indonesia diwarnai dengan bermunculannya kategori-kategori baru. Popularitas fotografi mendorong pelakunya menciptakan gerakan mereka sendiri, tandanya bisa kita lihat dari kemunculan kelompok-kelompok seperti lomografi, fotografi lubang jarum, fotografi landscape, fotografi budaya, fotografi manual, fotografi arsitektur, fotografi panggung dan lain sebagainya. Perkembangan kelompok pelaku fotografi yang mengkhususkan fotografi pada fokus selera masing-masing itu alih-alih dilihat sebagai perkembangan dan eksplorasi atas hobi memotret objek tertentu malah dilihat sebagai perkembangan genre.

Perkembangan kategori itu pada dasarnya merujuk pada penggunaan alat dan teknik tertentu serta pada selera membidik objek tertentu. Pelaku fotografi di Indonesia masih sibuk dalam upaya mengkotak-kotakan diri mereka pada perbedaan teknik dan objek, sambil tetap menyibukan diri dengan perdebatan estetika dalam karya foto yang masih cenderung normatif: bagus atau tidak dan (yang paling klasik) seni atau bukan. Sedangkan di luar negeri sana, seperti Singapore International Photography Festival (SIPF) dan Angkor Photo Festival (Kamboja) mereka sudah mewacanakan fotografi lebih jauh meninggalkan kita.

Kehadiran fotografi dalam keseharian kita tidak terlepas dari hakikat dasar foto yang merupakan teknik menghadirkan ulang kenyataan secara presisi dan bagaimana teknologi itu kawin dengan teknologi komunikasi. Industri teknologi fotografi yang semakin hari makin dekat dengan keseharian kita, menjadi syarat utama bagi kualitas telepon genggam membuat fotografi merajai cara kita mempresentasikan diri kita, secara sosial budaya dan estetika. Tampaknya segala bentuk aktifitas manusia tidak lepas dari bidikan kamera, apalagi aktifitas itu bernuansa seni. Presentasi kehidupan melalui foto membuat istilah estetisasi kehidupan sehari-hari makin nyata. Namun, satu hal yang juga selalu gatal dilakukan manusia, khususnya orang Indonesia, adalah gatal membuat kategori baru. Seakan loyalitas terhadap aktifitas memotret objek tertentu menjadi pencapaian yang membuatnya seakan berbeda dengan yang lainnya. Kita suka membuat judul.

Setidaknya itu yang bisa kita lihat dari artikel Doni Muhammada Nur yang berjudul “Tiga Puluh Tahun Membidik Pentas” (02/09). Artikel ini merupakan ulasan pameran tunggal Herman Efendi yang digelar di GK Patanjala, kampus STSI Bandung, 9 – 12 Agustus lalu.

Menyoal Fotografi Panggung

Doni, mengutip Herman, mengatakan bahwa karakteristik fotografi panggung adalah foto yang menonjolkan efek tematik dan karakter. Lalu dengan mengutip The Focal Encyclopedia of Photography Doni menekankan bahwa fotografi panggung adalah pemotretan adegan dalam pagelaran seni. Bidang fotografi panggung merupakan sesuatu yang spesial bagi para pemotret profesional atau amatir karena fotografi ini membutuhkan konsentrasi, kemahiran bereksplorasi, keterampilan teknis dan keterampilan artistik.

Kemudian Doni memaparkan bahwa pantangan dalam pemotretan panggung adalah dilarang menggunakan lampu kilat, menghalangi penonton dan sebagainya. Saya lalu bertanya-tanya, apakah dalam praktik pemotretan yang lainnya kaidah-kaidah tersebut tidak diperlukan? Saya menganggap kaidah-kaidah tersebut diada-adakan demi terbentuknya spesialisasi suatu aliran. Padahal, dalam praktik memotret objek apapun, kaidah-kaidah tersebut tetap berlaku. ‘

Dalam pemikiran saya, memotret merupakan interaksi antara pemotret dengan objeknya. Lingkungan objek adalah latarnya. Dan konsekuensinya adalah adanya kaidah-kaidah atau norma-norma tertentu yang harus ditoleransi. Konsekuensi selanjutnya adalah bahwa teknik memotret haruslah mengikuti norma yang berlaku di sekitar objek. Sebagai fotografer dokumenter, saya selalu menggunakan strategi-strategi yang berbeda-beda ketika memotret. Ketika memotret objek di jalan raya berbeda dengan objek di atas panggung. Namun, bukan berarti perbedaan itu bisa dijadikan landasan bagi terbentuknya aliran.

Analisis mengenai karya fotografi panggung, jika memang bisa disebut sebagai aliran, seharusnya dititikberatkan pada bagaimana sang fotografer mampu merekam drama yang ada di atas panggung. Elemen-elemen yang hadir di atas panggung merupakan bahan dasar yang akan berinteraksi dengan insting dan olah rasa sang fotografer. Lewat karya yang disebut fotografi panggung, karya foto seharusnya bisa mewakili cerita yang terjadi di panggung. Jadi bukan semata-mata persoalan estetika.

Sayangnya, Doni hanya mengapresiasi karya Herman Efendi dari kaidah estetika yang ideasional dan teknikal secara teoritis, dan tulisannya tidak bisa membuat saya sebagai pembaca masuk ke dalam dunia panggung yang sedang ingin disampaikan Herman Efendi.

Bagi saya, fotografi panggung sendiri bukanlah suatu aliran. Jika disebut aliran bisa jadi itu hanyalah sebuah gimmick agar publik lebih mudah mengapresiasi. Secara teknik fotografi panggung tidak berbeda dengan yang lainnya, sementara secara kaidah seperti yang saya katakan di atas, juga berlaku bagi praktik memotret yang lain. Hanya saja, harus diakui, sejak peradaban memasuki budaya pop pertunjukkan di panggung menjadi primadona. Menghadirkan ulang gemerlap dan drama di panggung menjadi salah satu elemen penting industri budaya populer. Fotografi panggung, jika demikian, seharusnya diletakan dalam konteks perkembangan seni pertunjukan. Biar makin sahih. Namun, tampaknya para fotografernya lebih suka menempatkan fotografi untuk fotografi.

Fakta menarik lain (atau ironi) adalah bahwa saya menemukan kemiripan beberapa bagian teks artikel Doni dengan uraian dalam sebuah blog atas nama Andry Prasetyo. Dalam dalam artikel berjudul foto panggung di blog yang beralamatkan http://andrysolo.blogspot.com/2011/07/fotopanggung.html, saya menemukan kemiripan sepertiga tulisan Doni di sana. Saya tidak terlalu paham siapa yang mengutip siapa karena dalam kedua tulisan tersebut tidak ada keterangan sumber kutipan. Jika yang terjadi adalah plagiarisme, sangat disayangkan bahwa dunia kritik fotografi semakin terpuruk dengan ulah plagiarisme ini.

Bandung, September 2012.

Nikki Sixx : Fotografi sebagai proses penyembuhan

Apabila ditelisik lebih dalam, hubungan fotografi dan rockstar bukan sesuatu yang baru. Kita bisa lihat Andy Summers, gitaris The Police, telah aktif sebagai fotografer sejak tahun 1979 dan bukan hanya menghasilkan berbagai pameran tetapi menerbitkan beberapa buku fotografi. Kristopher Roe dari The Atalaris dan Nick Zinner dari Yeah Yeah Yeahs juga aktif berpameran. Para rockstar lokal juga tidak kalah, Giring ‘Nidji’ dan Ariel ‘Peterpen’ pun mengeluti fotografi sebagai hobi. Cerita berbeda datang dari Elang Ebi, vokalis band Polyester Embassy. Ia mendialogkan fotografi dan musik sehingga saling menginspirasi. Tengok side project-nya yang bertajuk “Semipermanent”, dalam projek ini Elang membuat foto-foto kontemplatif dengan medium Polaroid yang merangsang inspirasi bagi musik Polyester Embassy yang juga kontemplatif.

Fotografi dan musik adalah elemen ekspresi yang berbeda. Musik menghasilkan bebunyian sedangkan fotografi menghasilkan gambar. Ditangan rockstar apakah ini menjadi bentuk kesatuan yang saling melengkapi seperti dalam projeknya Elang Ebi, atau memang hanya sebagai ekpresi jeda dari rutinitas bermusik mereka?

Nikki Sixx dan Fotografi

Kisah intim fotografi dan musik bisa kita tengok dari seorang Nikki Sixx, basis dari band pionir glam rock ’80-an, Motley Crue. Dia mengembalikan hasrat lamanya, yakni fotografi, ke dalam hidupnya. “He’s accumulated about 40,000 images on a hard drive”, tulis Rolling Stone yang mewawancarai kegilaan Nikki Sixx akan fotografi. Selain menguploadnya di situs pribadi, Sixx juga mempublikasikan karyanya di media sosial.

Melihat kaya-karyanya Sixx seakan melihat ‘kegelapan’. Dia sangat senang mengumbar nuansa gelap seakan itulah bentuk eksistensinya. Seperti dalam foto yang berjudul “Mimi Osaka 2011” dia menulis catatan kecil – seperti deskripsi atau caption – bagi saya tidak begitu jelas. “Had too pay to get some picture’s. I had no problem. I had a camera and some cash.She didnt speak english.The interpreter told her to stop. We didn’t say a word. Street corner, Osaka Japan”.

Bagi saya ini hal yang ironis. Dalam proses reportase tidak di benarkan membayar objek atau memberikan hadiah apapun untuk mengiming-imingi objek untuk rela di foto. Dalam proses reportase atau sering di sebut di Indonesia sebagai “Hunting foto” (lupakan istilah hunting foto, karena kalimat itu bagi saya saat ini berkonotasi ekploitatif) kedekatan dengan objek adalah yang terpenting, melakukan riset dan memahami problem yang di rasakan objek menjadi penting. Oleh karenanya foto reportase bukanlah sekedar gimik foto “human interest”.

Kembali ke Sixx, baru-baru ini ia meluncurkan buku yang berjudul This is Gonna Hurt: Photography and Life Through the Distorted Lens of Nikki Sixx. Buku ini berisi karya fotografinya yang merefleksikan kehidupan masa lalunya dari usaha menemukan cinta sampai kisah-kisah pencarian kebahagiaan di masa kininya. Seperti yang di kutip di amazon.com mengenai bukunya “This Is Gonna Hurt offers the compelling insights of an artist and a man struggling to survive, connect, and find a happy ending—a search that fuels Sixx’s being”

Melihat foto-foto dalam bukunya yang beberapa diunggah di www.rollingstone.com, yang paling ‘mencolok mata saya’ adalah foto tengkorak yang berjudul “Life”. Bagi saya tengkorak mengkonotasikan kekerasan. Dalam mitos-mitos masyarakat tengkorak merepresentasikan kematian. Namun foto itu ditempeli dengan pesan kehidupan oleh Sixx. Rasanya, foto ini berelasi dengan proses hidupnya. Ketergantunganya terhadap obat-obat terlarang memabawa dia pada sisi terendah dari kesadaran, bangkit dan terjerumus kembali adalah hal yang lumrah dialami Sixx. Dalam konteks ini saya melihat tengkorak sebagai simbol dari jati dirinya yang terjerumus dan bangkit menjadi a new Sixx’s being, lewat bagaimana ia memaknai simbol kematian menjadi simbol kehidupan. Bagaimanapun ia terjerumus ke dunia obat-obatan terlarang juga pergaulan dunia rockstar, namun di dunia rock jugalah ia hidup. Tengkorak sudah menjadi ikon bagi musik cadas, glam rock, metal dan lainnya. Dan di sana pulalah kehidupannya ia temukan. Life.

Budaya visual membawa Sixx pada strategi baru dalam meracik jati dirinya sebagai rockstar. Ia seakan tidak lagi ingin hanya diingat sebagai seorang yang brutal – kita tahu bagaimana brutalnya dia di Mötley Crüe yang mengalahkan pamor Tommy lee sekali pun. Lewat fotografi dia bisa menikmati obsesi masa lalunyanya, tanpa mengubur identitas rockstarnya, bahkan saling melengkapi. Lebih-lebih, ia kerap menjadi dosen tamu di Annenberg Space for Photography in Los Angeles.

Visualitas kini menjadi sentral budaya kita. Kita kini diajak untuk memproduksi dan mengkonsumsi karya visual, kini seakan semuanya harus di visualkan, tidak terkecuali jati diri. Strategi pencitraan diri lewat karya visual, terutama foto, menjadi amat populer bahkan yang paling utama karena new media menawarkan kemerdekaan untuk kita bermain jati diri di sana. Seperti juga yang dilakukan Sixx, Selain dia memiliki personal website dia juga memiliki dua akun sosial media. Materi-materi fotonya tidak jauh berbeda bahkan cenderung repetitif. Namun begitulah budaya visual, membom segala lini kehidupan kita saat ini. Budaya visual bahkan kini telah menggusur budaya tulisan yang sebelumnya merajai.

Maka, aktivitas kekaryaan Sixx juga ekses dari budaya visual yang sudah menjadi bagian dari budaya populer itu sendiri. Sixx dan banyak dari kita bisa jadi adalah konsumen dari budaya visual yang merajai keseharian kita. Dalam konteks dirinya yang merupakan rockstar apakah bisa dibilang bahwa peliputan mengenai aktivitas Sixx dalam fotografi merupakan liputan infotainment? Saya melihat Sixx dalam fotografi mirip dengan ibu-ibu kelas borjuis yang belajar melukis karena melukis sedang ngetren.

Ke-khusnudhon-an saya diatas bisa jadi akan luruh tatkala kita melihat fotografi bagi Sixx merupakan alat terapi. Kurang lebih, proses kekaryaan Sixx ini adalah bentuk pelarian positif dari ketergantunganya dengan obat-obat terlarang. Fotografi sebagai medium terapi telah terbukti efektif bagi kalangan yang memiliki masalah tekanan hidup tertentu. Di kalangan fotografer profesional ada Antoine D’Agata dan Nan Goldin yang juga mampu keluar dari jerat narkoba melalui aktivitas fotografi. Di titik ini, fotografi berfungsi sebagai bukan semata-mata alat, namun eksis menjadi bagian penting dari proses hidup manusia. Semoga fotogafi yang sedang digeluti Sixx terus berkembang menjadi “sesuatu” kalau kata Sahrini.

Sudah Terbit di Pikiran Rakyat, Rubrik Khazanah Minggu-16-Oktober-2011

http://epaper.pikiran-rakyat.com/index.php/component/flippingbook/book/1015-minggu-16-oktober-2011/38-oktober-2011.html

EX…


SANDI JAYA SAPUTRA
ATENEO DIPLOMA IN PHOTOJOURNALISM
DPJ199: FINAL PORTFOLIO
MULTIMEDIA

Single Pictures


enjoy

Reminding


enjoy

Tommorow Never Knows

Photo story, assignment 350.org

sorry, I mean three hundred fifty.

 

keep smile :D

street photography “Simulacra”

Enjoy :D

Policeman is also a human

Policeman is also a human

Enjoy :D

“King’s Chicken”


“king’s chicken” (Ongoing project)
This project has been exhibited at the Mois de la Photo (Showcase)
Yogyakarta 2010.
Editing video by Budi N D Dharmawan and many thanks for all committee Mois de la Photo (Showcase)