Fotografi Panggung dan Euforia Membuat Aliran Fotografi

*Merespon tulisan “Tiga puluh Tahun membidik Pentas, Khazanah Pikiran Rakyat”

Perkembangan fotografi di Indonesia diwarnai dengan bermunculannya kategori-kategori baru. Popularitas fotografi mendorong pelakunya menciptakan gerakan mereka sendiri, tandanya bisa kita lihat dari kemunculan kelompok-kelompok seperti lomografi, fotografi lubang jarum, fotografi landscape, fotografi budaya, fotografi manual, fotografi arsitektur, fotografi panggung dan lain sebagainya. Perkembangan kelompok pelaku fotografi yang mengkhususkan fotografi pada fokus selera masing-masing itu alih-alih dilihat sebagai perkembangan dan eksplorasi atas hobi memotret objek tertentu malah dilihat sebagai perkembangan genre.

Perkembangan kategori itu pada dasarnya merujuk pada penggunaan alat dan teknik tertentu serta pada selera membidik objek tertentu. Pelaku fotografi di Indonesia masih sibuk dalam upaya mengkotak-kotakan diri mereka pada perbedaan teknik dan objek, sambil tetap menyibukan diri dengan perdebatan estetika dalam karya foto yang masih cenderung normatif: bagus atau tidak dan (yang paling klasik) seni atau bukan. Sedangkan di luar negeri sana, seperti Singapore International Photography Festival (SIPF) dan Angkor Photo Festival (Kamboja) mereka sudah mewacanakan fotografi lebih jauh meninggalkan kita.

Kehadiran fotografi dalam keseharian kita tidak terlepas dari hakikat dasar foto yang merupakan teknik menghadirkan ulang kenyataan secara presisi dan bagaimana teknologi itu kawin dengan teknologi komunikasi. Industri teknologi fotografi yang semakin hari makin dekat dengan keseharian kita, menjadi syarat utama bagi kualitas telepon genggam membuat fotografi merajai cara kita mempresentasikan diri kita, secara sosial budaya dan estetika. Tampaknya segala bentuk aktifitas manusia tidak lepas dari bidikan kamera, apalagi aktifitas itu bernuansa seni. Presentasi kehidupan melalui foto membuat istilah estetisasi kehidupan sehari-hari makin nyata. Namun, satu hal yang juga selalu gatal dilakukan manusia, khususnya orang Indonesia, adalah gatal membuat kategori baru. Seakan loyalitas terhadap aktifitas memotret objek tertentu menjadi pencapaian yang membuatnya seakan berbeda dengan yang lainnya. Kita suka membuat judul.

Setidaknya itu yang bisa kita lihat dari artikel Doni Muhammada Nur yang berjudul “Tiga Puluh Tahun Membidik Pentas” (02/09). Artikel ini merupakan ulasan pameran tunggal Herman Efendi yang digelar di GK Patanjala, kampus STSI Bandung, 9 – 12 Agustus lalu.

Menyoal Fotografi Panggung

Doni, mengutip Herman, mengatakan bahwa karakteristik fotografi panggung adalah foto yang menonjolkan efek tematik dan karakter. Lalu dengan mengutip The Focal Encyclopedia of Photography Doni menekankan bahwa fotografi panggung adalah pemotretan adegan dalam pagelaran seni. Bidang fotografi panggung merupakan sesuatu yang spesial bagi para pemotret profesional atau amatir karena fotografi ini membutuhkan konsentrasi, kemahiran bereksplorasi, keterampilan teknis dan keterampilan artistik.

Kemudian Doni memaparkan bahwa pantangan dalam pemotretan panggung adalah dilarang menggunakan lampu kilat, menghalangi penonton dan sebagainya. Saya lalu bertanya-tanya, apakah dalam praktik pemotretan yang lainnya kaidah-kaidah tersebut tidak diperlukan? Saya menganggap kaidah-kaidah tersebut diada-adakan demi terbentuknya spesialisasi suatu aliran. Padahal, dalam praktik memotret objek apapun, kaidah-kaidah tersebut tetap berlaku. ‘

Dalam pemikiran saya, memotret merupakan interaksi antara pemotret dengan objeknya. Lingkungan objek adalah latarnya. Dan konsekuensinya adalah adanya kaidah-kaidah atau norma-norma tertentu yang harus ditoleransi. Konsekuensi selanjutnya adalah bahwa teknik memotret haruslah mengikuti norma yang berlaku di sekitar objek. Sebagai fotografer dokumenter, saya selalu menggunakan strategi-strategi yang berbeda-beda ketika memotret. Ketika memotret objek di jalan raya berbeda dengan objek di atas panggung. Namun, bukan berarti perbedaan itu bisa dijadikan landasan bagi terbentuknya aliran.

Analisis mengenai karya fotografi panggung, jika memang bisa disebut sebagai aliran, seharusnya dititikberatkan pada bagaimana sang fotografer mampu merekam drama yang ada di atas panggung. Elemen-elemen yang hadir di atas panggung merupakan bahan dasar yang akan berinteraksi dengan insting dan olah rasa sang fotografer. Lewat karya yang disebut fotografi panggung, karya foto seharusnya bisa mewakili cerita yang terjadi di panggung. Jadi bukan semata-mata persoalan estetika.

Sayangnya, Doni hanya mengapresiasi karya Herman Efendi dari kaidah estetika yang ideasional dan teknikal secara teoritis, dan tulisannya tidak bisa membuat saya sebagai pembaca masuk ke dalam dunia panggung yang sedang ingin disampaikan Herman Efendi.

Bagi saya, fotografi panggung sendiri bukanlah suatu aliran. Jika disebut aliran bisa jadi itu hanyalah sebuah gimmick agar publik lebih mudah mengapresiasi. Secara teknik fotografi panggung tidak berbeda dengan yang lainnya, sementara secara kaidah seperti yang saya katakan di atas, juga berlaku bagi praktik memotret yang lain. Hanya saja, harus diakui, sejak peradaban memasuki budaya pop pertunjukkan di panggung menjadi primadona. Menghadirkan ulang gemerlap dan drama di panggung menjadi salah satu elemen penting industri budaya populer. Fotografi panggung, jika demikian, seharusnya diletakan dalam konteks perkembangan seni pertunjukan. Biar makin sahih. Namun, tampaknya para fotografernya lebih suka menempatkan fotografi untuk fotografi.

Fakta menarik lain (atau ironi) adalah bahwa saya menemukan kemiripan beberapa bagian teks artikel Doni dengan uraian dalam sebuah blog atas nama Andry Prasetyo. Dalam dalam artikel berjudul foto panggung di blog yang beralamatkan http://andrysolo.blogspot.com/2011/07/fotopanggung.html, saya menemukan kemiripan sepertiga tulisan Doni di sana. Saya tidak terlalu paham siapa yang mengutip siapa karena dalam kedua tulisan tersebut tidak ada keterangan sumber kutipan. Jika yang terjadi adalah plagiarisme, sangat disayangkan bahwa dunia kritik fotografi semakin terpuruk dengan ulah plagiarisme ini.

Bandung, September 2012.